Bahkan dalam memangispun aku harus memilih cara menangis yang tegar.
Itu sebabnya aku lebih suka menyendiri, bahkan terkesan menjauh dari keramaian, karena aku tak sanggup, menahan agar senyum selalu bergayut itu aku tak pandai.
Aku menjauh, agar aku bisa menangis lebih keras, lebih kuat, dan agar kau tak mendengar.
Minggu, 15 November 2015
Kalau Teringat Ibu
Saat burung melupakan dahan
aku teringat ibu
setelah pulang dari terbang jauh
luka rindu pada petang
yang terpisah
mungkin bukan milikku
Sejak kecil bertanyaku kepada bintang
tak pernah aku tahu
bagaimana rasanya rindu
Teman kecilku kupu-kupu
kembaraku angin ladang
bahagiaku capung-capung telaga
sejak dulu kerinduanku selalu gugup
ke mana hinggap sayap-sayapku
Kecilku layang-layang
tak seorang memegang benang
Hanya karena tangan-tangan langit
tak hilang angin dan awanku
Terpejam aku setiap ingat ibu
kalau nanti sampai titik airmataku
ingin kukirim itu sebagai kado
setangkai kenangan kepada ibu
tak tahu apa ibu sedang menunggu.
(sebuah puisi dari Handrawan Nadesul, 2001)
Kamis, 05 November 2015
Keteladanan Ibrahim & Jiwa Kepemimpinan bagi anak
Melalui kisah para Nabi terdahulu, kita dapat mengambil hikmah bahwa salahsatu ciri adanya jiwa pemimpin ialah dengan memberikan yang terbaik dalam setiap hal yang diembankan padanya, menuntaskan setiap amanahnya dengan sempurna. Mari kita simak ayat berikut ini:
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu dia melaksanakannya dengan sempurna. Dia (Allah) berfirman, “Sesungguhnya Aku menjadikan engkau sebagai pemimpin bagi seluruh manusia.” Dia (Ibrahim) berkata, “Dan (juga) dari anak cucuku?” Allah berfirman, “(Benar, tetapi) janji-Ku tidak berlaku bagi orang-orang zalim.” (Q.S. Al Baqarah: 124)
Nabi Ibrahim a.s. dijadikan pemimpin atas kaumnya setelah beliau melaksanakan perintah-perintah Allah dengan sempurna. Allah-lah pemilik kepemimpinan, dan kepemimpinan itu dari Allah bagi siapa saja yang fit & proper untuk mengembannya.
“Katakanlah (Muhammad), “Wahai Tuhan Pemilik kekuasaan kepada siapapun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Maha kuasa atas segala sesuatu.” (Q.S. Ali Imran: 26)
Jadi, untuk menyandang kepemimpinan, yang perlu dilakukan bukanlah merebutnya dari penguasa yang lama, melainkan memantaskan diri agar Allah berkenan memberikan kepemimpinan kita. Ihsan dalam melakukan sesuatu. Niat dan menargetkan yang terbaik.
Ya, Allah meminta yang terbaik dari diri kita. Ahsanu amala, sebaik-baik, yang terbaik perbuatannya. Coba renungkan hadits berikut ini:
“Bila kamu melihat kemungkaran, ubahlah dengan tanganmu. Bila tak mampu ubahlah dengan lisanmu. bila tak sanggup, ubahlah dengan hatimu, dan itu adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim)
Mengapa urutannya bukan “Ubahlah dengan hatimu, lalu jika mampu, ubahlah dengan lisanmu, lalu jika mampu, ubahlah dengan tanganmu…”
Mengapa?
Karena Allah meminta kita mengusahakan yang terbaik dari diri kita. Adapun Allah, tidak membebani seorang hamba melebihi yang dapat ditanggungnya. Subhanallah, sungguh Allah Maha Bijaksana :).
Dari ayat Q.S. Al Baqarah ayat 24 tadi, masih ada hal lain yang dapat kita ambil. Perhatikanlah saat Ibrahim a.s. bertanya kepada Allah SWT, apakah kepemimpinan yang diberikan padanya itu akan diturunkan juga pada anak-anaknya. Lalu Allah SWT menjawab bahwa kepemimpinan tidak berlaku bagi turunannya yang zalim.
Bukan berarti bahwa turunan Nabi Ibrahim a.s. adalah orang-orang yang zalim seluruhnya. Setelahnya pun, Ismail a.s. menjadi pimpinan di kaumnya. Bagian ayat ini mengindikasikan, bahwa kepemimpinan bukanlah warisan. Hak untuk memberikan kepemimpinan masih tetap di tangan Allah. Allah tak akan berkenan memberikan kepemimpinan pada pihak yang zalim. Seperti apakah pemimpin yang zalim itu? Pemimpin yang serba tanggung, melaksanakan amanah seadanya saja. Tidak mengusahakan yang terbaik.
Karena kepemimpinan bukanlah sesuatu yang diwariskan. Maka bagaimana kita mengalihkan tongkat estafet kepemimpinan itu kepada generasi yang mukmin, yang juga berjuang untuk menegakkan dien-Nya? Karena sungguh Allah melarang kita mengambil pimpinan dari kaum lain selain mukmin (Q.S. Al Maidah: 51) Bagaimana agar turunan kita kelak dapat meneruskan kepemimpinan di muka bumi? (ehm, ini emang temanya jiwa kepemimpinan anak, jadi asumsinya pendengarnya udah punya anak semua. Yah gapapalah buat bekal nanti. Lebih baik terlalu dini daripada telat, kan waktu ga bisa di-rewind ya ga :D). Jalannya cuma satu: melalui proses pendidikan.
Jiwa Kepemimpinan Anak
Penting ngga sih membekali diri anak dengan sifat-sifat kepemimpinan? Tentu penting. Anak lelaki akan tumbuh menjadi pemimpin bagi istri dan anak-anaknya kelak. Anak perempuan akan tumbuh menjadi pemimpin dalam rumah tangganya kelak. Minimal agar sang anak dapat memimpin dirinya sendiri. Agar ia dapat mandiri menjalani hidupnya sendiri. Tidak terbawa arus kemudian ended up being nothing. Naudzubillah.
“Setiap kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas apa yang di pimpinnya, Seorang penguasa adalah pemimpin bagi rakyatnya dan bertanggung jawab atas mereka, seorang istri adalah pemimpin di rumah suaminya dan dia bertanggung jawab atasnya. Seorang hamba sahaya adalah penjaga harga tuannya dan dia bertanggung jawab atasnya.” (HR Bukhari)
So, karena kepemimpinan bukanlah keturunan melainkan sesuatu yang dibentuk oleh masing-masing individu, orangtua berperan penting dalam pendidikan kepemimpinan si anak ini. Berikut poin-poin penting untuk diperhatikan:
a. Dewasakan anak
Mengapa harus dewasa dulu? Karena pemimpin jelas memikul tanggung jawab. Sedangkan anak-anak, jangankan tentang urusan dunia, urusan akhirat saja ia tak bertanggung jawab karena masih dalam tanggungan orangtuanya.
Dalam islam, seseorang dianggap dewasa saat ia mencapai akil balig. Dewasa akal dan jasmaninya. Eits, jangan dulu dipandang sepele karena saat agama kita mensyaratkan akil balig bersama-sama. Seseorang yang sudah akil namun belum balig, belumlah dianggap dewasa. Adakah orang yang seperti itu? Tentu saja ada. Contohnya adalah Imam Syafi’i. Beliau mengeluarkan fatwa mengenai shaum sedangkan ia sendiri tidak melaksanakan shaum (kalo ga salah umur beliau 12 tahun waktu itu, cmiiw).
Yang harus diwaspadai adalah fenomena saat ini menunjukkan gejala yang sebaliknya. Sudah balig, namun akilnya belum sampai. Lihat aja, anak TK aja sekarang udah ada yang pacaran ==”. Ini yang mengkhawatirkan. Saat kebutuhan jasmaninya sudah mendewasa, akilnya masih kekanakan. Sang akal belum dapat mengendalikan sempurna, sedangkan nafsu dan ego sudah telanjur tinggi. Bahaya, bukan? Ini menjadi peer tersendiri untuk orangtua sekarang ini (fuh, beratnya jadi orang tua jaman sekarang).
Sebelum keduanya dicapai sang anak, maka akan sulit untuk memberikan pendidikan mengenai kepemimpinan ini. Dewasakanlah anak, sehingga ia dapat diajak berdialog. Al Qur’an mengisahkan Nabi Ibrahim mencontohkan hal ini:
“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka fikirkanlah apa pendapat mu! …” (QS.As-Shaffat:102)
b. Saat anak sudah dewasa (akil balig), Ikhlaskanlah anak menjadi seorang yang dewasa
Dikatakan bahwa (ini udah sering saya denger tapi lupa dri metode mana ya T_T) cara mendidik anak yang tepat, berdasarkan keadaan psikologis si anak adalah 7 tahun pertama dengan menjadikannya raja, 7 tahun kedua dengan menjadikannya jundi/ prajurit, dan 7 tahun ketiga dengan memposisikannya sebagai teman, setara. Selalu berkomunikasi dengan kalimat instruksional akan memposisikan sang anak selamanya menjadi anak buah.
Masih dalam Q.S. As Shaffat ayat: 102, Nabi Ibrahim mengajak berbicara pada anaknya Ismail dengan memposisikannya setara. Bayangkan jika Ismail masih diposisikan sebagai anak kecil, pastilah Nabi Ibrahim menggunakan kalimat perintah. Akan tetapi tidak, beliau menyampaikannya dengan kalimat berita, meminta pendapat dari sang anak.
Saya beberapa kali menemukan orangtua yang tidak rela anaknya tumbuh dewasa. Anaknya sudah dewasa tetapi masih diperlakukan sebagai anak kecil. Diatur ini-itu, ditelepon setiap beberapa jam sekali untuk menanyakan dia lagi ngapain, sama siapa, tidak boleh bepergian selain dengan keluarga–intinya, tidak diperkenankan membuat keputusan sendiri. Ada banyak kisah anak lelaki yang sudah menikah saja, ibunya masih ngurusin ini-itu, seakan istri dan ibunya rebutan :D.
Padahal, salahsatu tanda kedewasaan itu, ia dapat membuat keputusan sendiri. Seorang pemimpin pun, dituntut untuk mampu mengambil putusan-putusan yang tepat saat genting. Bagaimana jika pemimpin tak dapat mengambil keputusan? akan kacau keadaan kaum yang dipimpinnya.
Lalu apakah jawaban dari Ismail a.s. mengenai hal ini? masih dalam ayat yang sama:
“…ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepada-mu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (Q.S. As Shaffat:102)
Dari caranya menjawab, terlihat jelas kedewasaannya. Ia memilih apa yang paling diyakininya meski ayahnya memberikan opsi terbuka. Sebuah perkara yang besar: bahwa ia akan disembelih. Meski perintah dari Allah, jiwa kekanakan akan lebih mementingkan egonya sendiri. Jika Ismail masih kekanakan, tentu ia akan menolak terang-terangan.
c. Menumbuhkan Nilai-Nilai Cinta
Dalam ayat Q.S. As Shaffat 102 tadi, Nabi Ibrahim menggunakan kata ‘Yaa Bunayya’, panggilan kepada anak dengan rasa cinta, bukan sekedar ‘Yaa Ibnu’. Maka apa balasan dari Ismail a.s.?
‘Yaa Abati’ atau wahai ayahku tercinta, bukan sekedar ‘Yaa Abi’. Ya, cinta akan berbalaskan cinta. Sebaik-baik pemimpin adalah yang mencintai kaum dan dicintai pula oleh kaumnya, bukan? Maka sungguh penting untuk menumbuhkan rasa cinta pada sang anak dalam pendidikan kepemimpinannya.
d. Sastra Memegang Peranan Penting
Sejatinya hakikat sastra ialah untuk memanusiakan manusia. Merupakan suatu anggapan yang salah jika bahasa hanya dipandang sebagai alat komunikasi saja. Sesungguhnya, bahasa merupakan sebuah perwujudan dari peradaban, bahasa merupakan sarana pendidikan. bahasa mencerminkan budaya dan peradaban. bahasa merupakan alat untuk berdagang, untuk meyakinkan orang, untuk menghubungkan hati dengan hati: maknanya jauh lebih dalam.
Umar bin Khatab mengatakan: Ajarkan anakmu sastra, maka ia akan belajar menjadi pemberani. Hmm..pemimpin memang selayaknya berbahasa, berkata-kata, berkomunikasi bagus :).
Bahkan ustadz ini memberikan nasihat, untuk tidak mendidik anak dengan bi/multilingual kepada anak sejak dini, karena hal tersebut akan membuat anak buta akan sastra setiap bahasa yang dikenalnya. Didik anak hingga ia teguh bahasa ibunya, insya Allah kelak ia tidak akan kesulitan dalam mempelajari bahasa lain nantinya :)
Copas: a sub from titiksenyap.blogspot.com
Selasa, 27 Oktober 2015
Pada Suatu Hari Nanti
Pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi…
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau tak akan kurelakan sendiri…
jasadku tak akan ada lagi…
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau tak akan kurelakan sendiri…
Pada suatu hari nanti
suaraku tak terdengar lagi…
tapi di antara larik-larik sajak ini
kau akan tetap kusiasati…
suaraku tak terdengar lagi…
tapi di antara larik-larik sajak ini
kau akan tetap kusiasati…
Pada suatu hari nanti
impianku pun tak dikenal lagi…
namun di sela-sela huruf sajak ini
kau tak akan letih-letihnya kucari…
impianku pun tak dikenal lagi…
namun di sela-sela huruf sajak ini
kau tak akan letih-letihnya kucari…
~*Sapardi Djoko Damono*~
Selasa, 13 Oktober 2015
why Ros?
Ada
beberapa yang bertanya ke aku:
Ros, kenapa ga mau jadi pegawai bank?
Karena
kalo dibank kan harus dandan, ga tau deh kalo ngelihat bank bawaannya belum
sreg aja.
Lagian
saya masih khawatir sama kehalalalannya.
Ros, kenapa ga mau jadi Pns?
Yang
jelas, aku punya mimpi yaitu ehm kalo insya Allah nanti Allah kasih kesempatan
menikah dan punya baby, aku pengeeen banget ngerawat anak aku, memperhatikan
tumbuh kembangnya, dan menjaga dia, mendidik dia dengan baik.
Aku
ngerasa kalo jadi wanita karir, emang banyak uang, tapi rasanya aku ga
mendapatkan keberkahan karena nantinya bakal kurang menjwaga suami dan anak.
Terlalu
jauh ya aku mikirnya?
Ya
itulah aku, aku memang pemikir, terlalu complicated.
Sekarang
aku bekerja, iya aku punya uang, tapi kalo udah pulang kerja aku lelaaah
sekali, bayangin aja kalo nanti punya anak. Aku gam au kasih waktu sisa untu
suami dan anak aku. Aku harus meluangkan waktu untuk mereka, karena aku mau
anakku kelak jadi anak yang bermanfaat bagi ummat dan bangsa, jadi aku harus
menjaganya baik-baik.
Tapi
kembali lagi, aku hanya berencana, jika Allah nanti menakdirkan aku bekerja,
itu artinya aku harus pandai mengatur waktu bekerja dan untuk keluarga.
Pandai
menjaga kesehatan pandai menjaga diri.
Yaaa
itulah sebagian kecil dari mimpiku, semoga Allah memberikan yang terbaik yaaaa.
Rabu, 07 Oktober 2015
Aerobic
Hai.
Akhir-akhir ini saya sering sakit.
gampang sekali, dikit-dikit flu, kalo tidur suka menggigil, ba'da shubuh sering mual dan berakhir dengan menangis.
:D
yah, kalo makan saya memang suka gorengan siih, tapi saya juga suka makan sayur kok, tiap hari malah.
akhirnya saya memutuskan untuk masak sendiri, karena sesuai dengan selera dan lebih terjamin kebersihannya.
Weekend saya selalu masak, masak macem-macem, ada bening bayam sama ikan goreng, asam padeh, dendeng balado, dll.
well, meskipun rasanya absurd, tapi selalu habis, dan teman2 pada suka :D
Saya merasa kalo saya harus jaga kesahatan melalui makanan, saya ini jarang makan buah, kalo makan buah saya makan pisang sama pepaya, itupun kalo sempat.
oke, kemudian saya mulai berpikir untuk menjaga kesehatan, salah satunya melalui olahraga.
berhubung saya asma, maka olahraga yang tepat adalah dalam ruangan :D
ALIBI!!!
oke, mulailah saya senam aerobic.
alhamdulillah gerakannya random, ga jelas.
jantung saya juga berdetak lebih keras, nafas tersengal-sengal.
saya mikir lagi, olahraga apa yang cocok.
aha, akhirnya saya dapat ide, yaitu YOGA.
iya yoga, yang ono, jadi mulailah saya milih-milih di youtube yoga yang pas sama saya.
semoga saya makin sehat yaaa.
kalo sakitkan kasihan, mana saya belum ada abi lagi...aaaaaaa becanda yaaa.
maafkan saya.
Akhir-akhir ini saya sering sakit.
gampang sekali, dikit-dikit flu, kalo tidur suka menggigil, ba'da shubuh sering mual dan berakhir dengan menangis.
:D
yah, kalo makan saya memang suka gorengan siih, tapi saya juga suka makan sayur kok, tiap hari malah.
akhirnya saya memutuskan untuk masak sendiri, karena sesuai dengan selera dan lebih terjamin kebersihannya.
Weekend saya selalu masak, masak macem-macem, ada bening bayam sama ikan goreng, asam padeh, dendeng balado, dll.
well, meskipun rasanya absurd, tapi selalu habis, dan teman2 pada suka :D
Saya merasa kalo saya harus jaga kesahatan melalui makanan, saya ini jarang makan buah, kalo makan buah saya makan pisang sama pepaya, itupun kalo sempat.
oke, kemudian saya mulai berpikir untuk menjaga kesehatan, salah satunya melalui olahraga.
berhubung saya asma, maka olahraga yang tepat adalah dalam ruangan :D
ALIBI!!!
oke, mulailah saya senam aerobic.
alhamdulillah gerakannya random, ga jelas.
jantung saya juga berdetak lebih keras, nafas tersengal-sengal.
saya mikir lagi, olahraga apa yang cocok.
aha, akhirnya saya dapat ide, yaitu YOGA.
iya yoga, yang ono, jadi mulailah saya milih-milih di youtube yoga yang pas sama saya.
semoga saya makin sehat yaaa.
kalo sakitkan kasihan, mana saya belum ada abi lagi...aaaaaaa becanda yaaa.
maafkan saya.
Kamis, 01 Oktober 2015
kamu
Mimpi ini memang hebat, tapi uni punya kamu yang jauuuh lebih hebat.
dan insya Allah uni lebih memilih memperjuangkan kamu.
kamu tahu?
uni ingin kamu jadi perempuan yang sholehah, hafidzah quran.
uni ingiiin sekali, gadis kecil uni berkerudung putih lalu mengaji dengan merdu dan tartil.
uni ingin itu dek.
jadi, tak mengapa jika uni harus menunda semua mimpi uni sementara uni memperjuangkan mu.
dan insya Allah uni lebih memilih memperjuangkan kamu.
kamu tahu?
uni ingin kamu jadi perempuan yang sholehah, hafidzah quran.
uni ingiiin sekali, gadis kecil uni berkerudung putih lalu mengaji dengan merdu dan tartil.
uni ingin itu dek.
jadi, tak mengapa jika uni harus menunda semua mimpi uni sementara uni memperjuangkan mu.
Langganan:
Postingan (Atom)